Cerita Jaka Tarub dan 7 Bidadari merupakan cerita rakyat yang mungkin sudah sering anda tonton di Tv atau baca di buku dongeng.

Cerita ini mengisahkan pemuda yang bernama Jaka Tarub dan bidadari yang tak bisa kembali ke kahyangan bernama Nawangwulan.

Berikut ini Wisatawan.id akan membahas Cerita Jaka Tarub dan 7 Bidadari.

********

Dahulu kala di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda bernama Jaka Tarub bersama ibunya Mbok Milah.

Sehari-hari mereka bertani padi sawah demi mencukupi kebutuhan hidup.

Di usia Jaka yang telah matang, mbok Milah merasa khawatir melihat anaknya tak kunjung menikah.

Walau begitu, si anak tetap santai menjalani kehidupannya sebagai bujangan.

Suatu hari Jaka Tarub berburu ke hutan dan berhasil memanah seekor menjangan.

Jaka pulang ke rumah dengan hati senang sambil memanggul hewan buruannya.

Ditengah jalan, tiba-tiba ada seekor macan tutul yang siap menerkam.

Dalam keadaan panik Jaka melepaskan sanggulan menjangan, dan kemudian Macam itu mengambil hewan buruan Jaka dan pergi.

“Pertanda buruk apa ini, aku tak pernah sesial ini?” keluh Jaka akibat kesialan yang dihadapinya hari ini.

Kesialan beruntun datang silih berganti, Jaka tidak mendapat seekor hewan pun untuk diburu.

Akhirnya Jaka memilih kembali ke rumah, sesampainya di desa Jaka heran melihat warga desa bergegas lari kearah rumahnya.

Betapa terkejutnya ia mendapati Ibu yang dikasihinya telah terbujuk kaku diatas dipan. Kini, Jaka Tarub resmi hidup sebatang kara.

Hari-hari Jaka Tarub kini diisi dengan berburu dihutan.

Saat di hutan, Jaka merasa haus dan berjalan menuju danau Toyawening yang terletak di tengah hutan.

Ketika hampir sampai, Jaka mendengar suara seperti ada yang berbicara.

“Ahh, mana mungkin ada suara manusia bercengkrama, barangkali ini suara angin menggesek dedaunan,” celoteh Jaka Tarub.

Ia pun mengendap-endap mendekati danau, betapa terkejutnya Jaka melihat 7 wanita cantik yang sedang mandi.

Dari perbincangan mereka, Jaka Tarub meyakini bahwa mereka adalah bidadari dari kahyangan.

“Aku akan mengambil salah satu selendang mereka, dan pasti yang punya takkan bisa kembali,” kata Jaka menyusun rencana.

Diambilnya selendang warna merah.

Kemudian saat para bidadari akan pulang, salah satu pemilik selendang merah panik karena tak bisa menemukan selendangnya.

Bidadari tersebut bernama Nawangwulan dan ia tak bisa pulang kekahyangan.

Ia pun ditinggal oleh saudaranya di bumi dan berkata, “Siapapun yang menemukan selendangku jika perempuan aku jadikan saudara, jika laki-laki aku bersedia menjadi istinya.”

Mendengar penuturan Nawangwulan, Jaka keluar dari persembunyian dan menawarkan diri untuk membantu Nawangwulan selama di bumi.

Kebaikan Jaka tarub telah membuat Nawangwulan bersedia menikah dengannya.

Kehidupan rumah tangga mereka diliputi kebahagiaan dan dikaruniai anak dengan nama Nawangsih.

Namun ada hal yang mengganggu pikiran Jaka mengenai lumbung padinya yang tak pernah berkurang walau sudah dimasak berkali-kali.

Karena penasaran Jaka melanggar perintah istrinya untuk tidak membuka isi kukusan.

Akibatnya kesaktian Nawangwulan hilang dan Jaka menyesali perbuatannya.

Kini, lumbung padi mereka semakin menipis.

Suatu hari, Nawangwulan menarik batang pagi dilumbung dan merasakan kelembutan saat menariknya.

Ia penasaran dan terus menariknya, ternyata ia mendapati selendang yang selama ini dicarinya berada dalam lumbung.

Yang berarti Jaka yang telah mencuri selendangnya.

Marah dan kecewa telah menyelimuti hati Nawangwulan, ia akan kembali ke kahyangan.

Jaka yang mengetahui bahwa ia telah ketahuan mengaku bersalah, namun terlambat Nawangwulan akan tetap kembali.

Walau demikian, anaknya Nawangsih tetap akan bisa bertemu ibunya dengan syarat Jaka tidak ada di sekitar mereka.

Jaka sangat menyesal dan mencoba tegar karena memang itulah akibat yang harus ditanggungnya.

Begitulah akhir cerita Jaka Tarub karena telah mencuri selendang bidadari.

Anda bisa menyimpulkan pesan moral yang dapat diambil dari cerita ini.