Cerita Legenda batu menangis merupakan salah satu dongeng nusantara yang berasal dari daerah Kalimantan Barat.

Cerita legenda batu menangis ini mengisahkan mengenai seorang anak gadis yang durhaka terhadap ibunya, bagaimana kisahnya hingga disebut batu menangis?

Berikut ini Wisatawan.id akan membahas Legenda Batu Menangis di Kalimantan.

********

Dahulu kala di atas bukit kecil yang jauh dari pemukimam penduduk tepatnya daerah Kalimantan Barat hiduplah seorang anak perempuan bersama ibunya yang seorang janda miskin.

Anak gadis sang janda memiliki perawakan dan paras yang indah, namun sifatnya tak secantik parasnya.

Ia sangat malas dan tak pernah mau membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah, kerjanya hanya berdandan setiap harinya.

Sikapnya manja sekali dan segala permintaannya harus terpenuhi, tanpa memedulikan keadaannya yang miskin.

“Ibu, aku ingin makan membeli pakaian baru. Isi lemari ku hanya ada pakaian lama yang sudah usang,” pinta sang gadis.

“Pakai saja yang ada nak, uang penghasilan hari ini hanya cukup untuk membeli makan hari ini dan besok,” jawab sang ibu.

“Aku tidak peduli, pokoknya aku mau pakaian baru, kalau perlu ibu tidak usah makan biar uangnya buat beli pakaianku saja,” geram sang gadis.

Mendapat perlakuan seperti ini sang ibu hanya mencoba bersabar dan sebisa mungkin memenuhi keinginan anaknya.

Suatu hari sang ibu mengajak anak gadisnya ke pasar yang terletak di bawah bukit untuk berbelanja.

Dengan berjalan melenggang sambil bersolek, sang gadis meninggalkan ibunya di belakang sambil membawa keranjang belanjaan.

Dikarenakan mereka tinggal ditempat terpencil, penduduk desa tidak ada yang mengetahui bahwa kedua orang tersebut adalah ibu dan anak.

Ketika memasuki desa, penduduk desa memandang pasangan ibu dan anak gadisnya.

Mereka terpesona dengan paras cantik anak gadis itu.

Diantara pemuda yang memandangi kecantikan yang jarang terlihat ini, ada yang mendekat dan berkata, “ Hai, cantik. Apakah yang berjalan tak jauh dibelakangmu itu ibumu?”

Si gadis menjawab, “Lihatlah aku sangat cantik dan ia begitu buruk rupa dan pakaiannya compang-camping. Tentu ia bukan ibuku, ia adalah pembantu di rumahku.”

Begitulah sepanjang perjalanan ke pasar, mereka bertemu dengan orang-orang desa yang menanyakan apakah mereka sepasang ibu dan anak.

Sepanjang itu pula anak gadis itu menolak mengakui ia bersama ibunya.

Mulanya sang ibu masih menahan diri mendengar jawaban sang anak.

Namun setelah berulangkali mendengarnya hati sang ibu amat sakit.

Dia pun berdoa, “Ya Tuhan, hinaan dari anakku sendiri sudah tak sanggup ku tahan. Teganya dia memperlakukan ibunya seperti ini. Ya Tuhan, berilah keadilan Mu dan hukumlah anak durhana ini!”

Dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, do’a sang ibu segera terwujud, perlahan-lahan mulai dari kaki hingga menuju badan gadis durhaka itu berubah menjadi batu.

Merasakan hukuman Sang Maha Kuasa gadis itu merengek dan memohon, “Ibu…ibu…, ampuni anakmu ini, aku telah durhaka ampunilah kesalahanku ibu…”

Namun, semua telah terlambat seluruh tubuh gadis durhaka itu telah menjadi batu.

Dari kedua mata batu tersebut orang-orang masih bisa melihat sang gadis meneteskan air mata layaknya orang yang menangis.

Itulah mengapa batu itu dinamakan “batu menangis”.

Sekian cerita legenda batu menangis yang dipercaya masyarakat setempat memang benar-benar terjadi.

Nilai kehidupan yang bisa di ambil dari cerita rakyat ini adalah barang siapa mendurhakai ibu kandung yang telah merawat dan memeliharanya, laknat Sang Maha Kuasa akan segera diterimanya.

Maka hormati dan berbaktilah kepada kedua orang tua mu,terutama ibu.